Pangeran Diponegoro (1785-1855)

  • Whatsapp

Pangeran Harya Dipanegara atau dikenal sebagai Pangeran Diponegoro merupakan putra tertua dari Sultan Hamengkubuwana III yang memerintah tahun 1810-1814 di Kesultanan Yogyakarta.

Pangeran-Diponegoro-1785-1855

Diponegoro lahir di Yogyakarta 11 November 1785 dari salah seorang isteri sultan yang bukan dari kalangan bangsawan yang bernama R.A.Mangkarawati yang merupakan putri seorang kiyai dari Tembayat, desa yang terletak di selatan Yogyakarta.

Masa Kecil Pengeran Diponegoro

Diponegoro yang sebelumnya bernama R.M.Ontowiryo semasa kecil diasuh kakek dan nenek buyutnya dalam lingkungan keraton Yogyakarta. 

Setelah Sultan Hamengkubuwana I wafat dan digantikan Sultan Hamengkubuwana II, Ratu Ageng, permaisuri Hamengkubuwana I yang mengasuh Diponegoro dikabarkan tidak betah tinggal di keraton. Diponegoro kemudian dibawa ke Tegalrejo, Magelang dan hidup bersama rakyat di luar keraton.

Di daerah Tegalrejo ratu Ageng yang memiliki tanah luas mendirikan mesjid-mesjid dan surau-surau sebagai tempat beribadah dan menimba ilmu agama bagi warga sekitar. 

Di Tegalrejo inilah, Diponegoro banyak belajar ilmu agama dari para guru dan para santri senior. Di sana Diponegoro juga memiliki kesempatan belajar dari ulama-ulama terkenal masa itu. 

Diponegoro pernah belajar dari salah satu ulama berasal dari Sumatera yang bernama Kiyai Taftajani yang bermukim dekat Tegalrejo.

Sejak kecil Diponegoro telah terbiasa hidup dalam suasana Islam yang taat. Hal ini dapat dilihat dari cara hidup sehari-hari. Diponegoro juga senang bergaul dengan ulama dan banyak belajar tentang tasawuf, tauhid dan fikih.

Saat kecil Diponegoro jarang muncul di keraton, tidak seperti bangsawan muda lainnya. Diponegoro biasanya hanya muncul untuk acara Gerebeg (Maulid). Hal ini dikarenakan keraton saat itu dianggap memiliki tradisi yang tidak sejalan dengan ajaran Islam dan banyak memiliki intrik-intrik Belanda.

Setelah Ratu Ageng meninggal, Diponegoro mewarisi seluruh kekayaannya dan tetap tinggal di Tegalrejo. Meski memiliki warisan, Diponegoro tetap mengelola harta warisan nenek buyutnya itu dengan cakap. Ia juga toleran terhadap penyewa tanah dengan memberi kemudahan.

Ilmu Agama dan lingkungan hidup sederhana membuat Diponegoro memiliki ciri khas yang berbeda dengan bangsawan muda lainnya. 

Diponegoro juga memiliki kebiasaan mengenakan pakaian khas ulama Mekah saat itu dengan ciri jubah, ikat pinggang dan sorban. Kebiasaan ini telah dilakukannya sebelum pecah perang dengan Belanda.

Dalam babad yang ditulis Adipati Cakranegara I (1830 – 1862) diceritakan bahwa Diponegoro memiliki sifat adil dan memiliki perhatian besar pada rakyat kecil.

Dalam babad Diponegoro, yang ditulisnya sendiri dalam masa pembuangan di Manado, Sulawesi Utara, ia mengungkapkan ketidaksukaannya pada cara hidup keraton Yogyakarta yang dianggap telah terpengaruh oleh penetrasi Belanda. Diungkapkan bahwa kemungkaran yang terjadi membuatnya ingin menegakkan yang hak dan menghapus kebatilan.

Ketika ia menyaksikan kemungkaran, merosotnya moral dan kesewenangan akibat pengaruh Belanda timbul rasa kebencian di hatinya sekaligus keinginan untuk menegakkan kebenaran. 

Pangeran Diponegoro kemudian memimpin perang yang selanjutnya dikenal sebagai perang Diponegoro atau perang Jawa.

Perang Diponegoro terjadi antara tahun 1825 sampai 1830 dan menyebabkan banyaknya korban jiwa dan kerugian materil baik pihak Belanda dan rakyat pada saat itu.

Diperkirakan perang ini menelan korban sebanyak 15 ribu jiwa dari pihak Belanda (yang terdiri dari 8000 tentara Belanda dan 7000 pribumi)  dan 200 ribu jiwa dari pihak rakyat. Biaya atau materil yang dikeluarkan pihak Belanda diperkirakan sebesar 2 juta gulden sedangkan pihak rakyat kesultanan Jogya ada sekitar 2 juta yang menderita, baik materil maupun spiritual.

Sebab Terjadinya Perang Diponegoro

Berikut ini merupakan sebab-sebab terjadinya perang Diponegoro:

(1) Penetrasi Belanda semakin kuat di kraton Yogya.

(2) Rakyat kecil yang semakin tertindas, sementara para bangsawan hidup dalam kemewahan.

(3) Hukum agama tidak dilaksanakan.

(4) Ketentuan adat diabaikan.

(5) Kesewenangan Patih Danureja (di bawah Sultan Hemengku Buwono V, 1822-1855) yang dianggap pro Belanda. 

Selain hal-hal di atas, hal lain yang juga menjadi penyebab langsung terjadinya perang adalah pemancangan tanah Diponegoro oleh Belanda, tanpa izin Diponegoro. Pemancangan ini dimaksudkan untuk pembuatan jalan raya, atas perintah Residen Huibert Gerard Nahuys.

Seperti diungkapkan dalam babad Diponegoro, perang melawan Belanda merupakan perang Perang Sabil, yaitu merupakan perang melawan orang kafir. 

Melalui konsep perang sabil ini Diponegoro dan pengikutnya melakukan perlawanan terhadap Belanda serta ia diberi gelar Ratu Peneteg Panatagama (pemimpin Agama di tanah Jawa).

Perang Diponegoro (1825 – 1830)

Pangeran Diponegoro melakukan perang bersama pengikutnya secara gerilya di Yogyakarya dan Jawa Tengah.  

Menurut literatur sejarah,  dalam perang itu,  Diponegoro dibantu 40 Bupati di sekitar Jogyakarta dan sejumlah besar guru agama dan ulama, terutama yang berasal dari daerah pardikan (daerah bebas pajak)  dan sejumlah besar penduduk desa.  Di antara ulama termasuk Kiai Maja,  dari Pardikan Maja (Surakarta). Panglima perang yang terkenal pada perang Diponegoro adalah Sentot Prawirodirjo (Alibasah). 

Gelar lain yang didapat Diponegoro dari pengikutnya adalah Sultan Ngabdulkamit Erucakra Amirulmukminin Sayidin Panatagama Khalifatullah Tanah Jawa.  Arti dari gelar ini adalah bahwa Diponegoro merupakan Ratu Adil yang ditunggu-tunggu dan dijanjikan Tuhan yang akan datang kepada pengikutnya untuk melepaskan mereka dari penindasan dan penderitaan. 

Catatan: mengenai gelar yang kedua ini merupakan gelar pemberian rakyat yang masih ada pengaruh adat dan secara makna belum tentu sejalan dengan syariat Islam. 

Dengan adanya kepercayaan rakyat terhadap dirinya, Diponegoro mendapat dukungan penuh melawan Belanda dan tidak sulit untuk mencari dukungan. 

Ada sekitar ratusan ribu rakyat dan sejumlah ulama yang mendukung pergerakan Diponegoro mulai dari awal sampai akhir perang. 

Pasukan Diponegoro terdiri dari 2 bagian,  yaitu pasukan khusus dan pasukan umum.  Pasukan khusus terdiri dari santri dan ulama sedangkan pasukan umum dipimpin para bangsawan. 

Dengan semangat jihad, perang melawan kolonial Belanda dijalankan selama 5 tahun secara konsisten. Perjuangan ini berhasil menggoyahkan sendi kekuasaan kolonial dan nyaris melumpuhkannya. 

Untuk mengatasi perlawanan Diponegoro,  kolonial menjalankan berbagai taktik perang. Mulai dari taktik dengan janji janji ‘manis’ maupun taktik kekerasan. 

Penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Kolonial

Salah satu taktik Belanda yang berpengaruh terhadap perlawanan Diponegoro adalah dengan mempersempit ruang gerak pasukan. 

Tentara Belanda, dengan dipimpin panglima Jenderal Hendrik Merkus Baron de Kock, tahun 1827 mendirikan benteng-benteng yang diberi persenjataan lengkap di setiap daerah yang dapat direbut. Usaha ini menunjukkan hasil dengan semakin melemahnya perlawanan pasukan Diponegoro pada akhir 1829. 

Jenderal Belanda, de Kock, mengajak Diponegoro untuk melakukan perundingan perdamaian di Magelang yang akhirnya disetujui oleh Diponegoro. Namun,  ketika Diponegoro datang bersama 3 anak dan beberapa pengikut setianya pada 28 Maret 1830, ia ditangkap dan diperlakukan sebagai tawanan perang. 

Diponegoro beserta keluarga dan pengawal setianya akhirnya diasingkan ke Menado. Tiga tahun berselang ia dipindahkan ke  Benteng Rotterdam di Makassar (sekarang Ujung Pandang)  hingga akhir hayatnya.

Diponegoro wafat 8 Januari 1855 dan makamnya saat ini berada di tengah-tengah kota Ujung Pandang. 

Gravatar Image
  • Whatsapp

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *